Seni Kanggo Sedulur Lombok: Acara Kemanusiaan Berbalut Seni

Tulisan ini pertama kali terbit di lpmpressisi.com

Bukan sekadar menghadirkan produk-produk kreatif, mengadakan bazar-bazar kuliner dan beragam isi acara di panggung utama bertujuan untuk menarik peran masyarakat ke dalam lokasi penyelenggaraan di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. ISI Jogja dipilih sebagai venue selain karena ikonik dengan label ‘seni’, pun untuk mengajak berbagai komunitas agar terlibat. “Selain di sana pertumbuhan banyak komunitas, juga untuk akses dan sebagainya tidak terlalu rumit, seperti rumah orang/ruang-ruang pada umumnya,” menurut Muhammad Alwi Assagaf, selaku Ketua Pelaksana.

Peserta Sketsa Bersama mulai mengerjakan sketsa di sisi utara panggung utama.

Ragam pengisi rangkaian Seni Kanggo Sedulur Lombok meliputi musik dari grup indie, daerah, tradisional, hingga solo, mengisi sebagian besar rangkaian acara. Sedangkan pantomim, tari-tarian, dan orasi sastra turut andil melengkapi variasi pertunjukan di panggung utama; sketsa bersama dan sablonase menjadi bentuk lain untuk menggalang dana lewat karya; lalu ditutup dengan doa bersama. Satu di antaranya yakni sketsa bersama, diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang usia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Para peserta sketsa bersama menyebar di seputaran area Boulevard, utara panggung utama, dan pelataran depan Gedung Program Studi Seni Murni. Sketsa yang telah dibuat kemudian dilelang, dan hasil lelang akan disumbangkan.

Pengisi panggung utama dan pendukung teknis acara di antaranya adalah Sasak Institut, Komunitas Perupa Sasak, Komunitas Berugak, Kipasoak, Sanggar Seni Jayangrani, Komunitas Kutub, fsr.isi.net, Kalasan Multimedia, dan para pendukung lain.

Deretan stand bazar berjajar sejauh 20 meter dari depan panggung utama, terdiri dari kopi, makanan, dan pakaian.

Acara kemanusiaan berbalut seni yang diburu tenggat waktu ini mengerucutkan jenis bantuan hanya berupa uang, karena bantuan dibutuhkan segera. Pun demikian, donasi berupa uang dinilai lebih ringkas dan efisien dalam hal waktu agar secepat mungkin sampai di lokasi bencana tanpa perlu diangkut dengan transportasi darat, laut, maupun udara. Sementara dibarengi dengan donasi dari penjualan sketsa dan karya dari para seniman senior yang membutuhkan waktu 7 x 24 jam sejak penyelenggaraan acara (langsung) selesai.

Sedikit-banyak, apresiasi datang silih-berganti dari masyarakat sekitar kampus dan sivitas akademika ISI Yogyakarta. Peran serta dari awak media dan seniman-seniman senior turut andil secara riil maupun materiel. Sejumlah seniman yang tidak sempat hadir untuk mengikuti satu atau seluruh rangkaian acara, memberikan satu-dua karya jadi kepada pihak penyelenggara sebagai sumbangsih untuk kemudian dijual. Karya-karya itu menjadi donasi tidak langsung, dengan salah satunya mencapai angka 100 juta rupiah.

Animo para penikmat yang datang pun dibarengi dengan harapan-harapan perhatian dari para pejabat pemerintahan terkait. “Pertama tentu dari pihak pemerintah kampus sendiri, birokrasi, itu karena kita di sini sebagai tuan rumah. Juga dari Desa Panggungharjo sebagai tuan rumah kedua. Dan tentu Pemerintah Bantul sendiri, karena ini statusnya semacam kebangsaan kan, dan juga kolektor. Acara ini juga melibatkan banyak seniman,” terang Alwy.

Penampilan pertama dari grup musik Sanggar Seni Jayangrani, membawakan Musik Gambus dengan lagu berjudul Tunggul Loak.

Selain perihal perhatian dari para pejabat terkait, dirinya juga menambahkan bahwa Seni Kanggo Sedulur Lombok pun telah melebihi ekspektasi awal dari kali pertama ide acara kemanusiaan yang dibalut dengan seni itu tercetus. Timbulnya kegiatan berjejaring antar mahasiswa baru lebih kental dan meluas lebih cepat, serta respons lebih lanjut dan berkepanjangan untuk menyelenggarakan acara dengan konteks serupa, namun dikemas berbeda.

“Sebenarnya ini melebihi ekspektasi, karena kami rencananya cuma mau ngamen. Ngamen kecil, cuma di rumah sendiri. Akhirnya dengan tambahan tenaga dan bahan-bahan dukungan, ekspektasi itu malah membesar. Tentu masih banyak kekurangan, tapi ini sangat luar biasa. Terutama karena ini dadakan, dan mungkin 70% panitianya adalah mahasiswa baru,” lanjutnya dalam wawancara bersama Pressisi menjelang penutupan acara.

Proses sablonase kaos-kaos di depan Gedung Seni Murni untuk dijual, hasil penjualan disumbangkan kepada para korban gempa di Lombok.

Manusia hidup bersama rasa kemanusiaan. Begitu pula ranah seniman, profesi yang lahir dari bentuk bentuk budaya dan kearifan lokal di tengah masyarakat. Seni Kanggo Sedulur Lombok terbilang sederhana untuk standar acara besar, namun termasuk besar jika dalam konteks penggalangan dana.

Acara yang menjadi bentuk lain dalam mengembangkan ide penggalangan dana dari para pelaku seni ini terselenggara dengan tujuan lebih luas. “Bagaimana caranya kami tetep melakukan sesuatu, bentuknya solidaritas tapi tetap dengan suka cita seperti kekhasannya anak seni pada umumnya. Bagaimana ini bisa merangkul mahasiswa seni dan masyarakat kampus sekitar,” tandasnya.

Foto: Citra Conde Sistyoayu & Miftachul Arifin

Tinggalkan komentar