Merangkum Dua Wujud ‘Suara’ oleh Anak-Anak Sang Penyair

Tulisan ini pertama kali terbit di lpmpressisi.com

Selasa (25/9) Wani sedang menyampaikan kata sambutan kepada seluruh penonton serta pengisi acara.

Bagi seorang Fitri Nganathi Wani, karya sastra, tulisan yang tak ada suaranya,hanya berwujud huruf dan kata-kata adalah sesuatu yang sangat memiliki kekuatan luar biasa untuk menginspirasi dan mempengaruhi banyak orang.

“Dari situ saya semakin meyakini bahwa hilangnya bapak saya karena dia menulis tentang kebenaran.” Tutur Wani.

Selasa (25/9) berlangsung acara peluncuran buku puisi “Kau Berhasil jadi Peluru” oleh Fitri Nganthi Wani dan video klip “Bunga dan Tembok” oleh Fajar Merah di Ruang Selatan,Jakarta Selatan. Acara itu mendatangkan para seniman dan aktivis, seperti  Dinda Kanya Dewi, Dhyta Caturani, Mian Tiara, Melanie Subandono, Putri Ayudya, Linda Christanty, Eduwart Manalu, dan Rachel Amanda sebagai pembaca puisi dalam buku kumpulan puisi “Kau Berhasil jadi Peluru”.

Project buku kumpulan puisi ini adalah bentuk kolaborasi kedua dari Wani dan Yulia Evica Bhara, produser film Istirahatlah Kata-Kata. Sebelumnya mereka sempat berkolaborasi dalam pembuatan film Istirahatlah Kata-Kata (2016), sebuah film yang mengangkat tentang kesunyian seorang Wiji Thukul,ayah dari Wani dan Fajar Merah dalam bersembunyi dari kejaran pemerintah. Wiji Thukul adalah seorang penyair dan pejuang demokrasi pada masa orde baru. Wani menjadi narasumber dalam kolaborasi pertama itu. Buku kumpulan puisi kemudian diluncurkan sebagai bentuk kelanjutan dari kolaborasi sebelumnya.

Puisi-puisi tersebut pun dikurasi oleh Gunawan Maryanto, aktor yang memerankan tokoh Wiji Thukul dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Berasal dari anak seorang penyair yang setiap karyanya dipuji oleh banyak orang, Wani mengaku sempat mendapatkan omongan tidak enak dari segilintir orang. Mereka mencoba membanding-bandingkan karya Wani dengan karya Ayahnya sendiri. “karena mereka tidak bisa melihat bahwa tujuan saya menulis adalah untuk terapi. Bukan untuk media perlawan seperti yang dilakukan oleh bapak.” Bantah Wani.

Para seniman yang hadir bergiliran membacakan masing-masing dua puisi. Salah satu diantaranya adalah Putri Ayudya. Putri memberikan interpretasi terhadap buku kumpulan puisi “Kau Berhasil jadi Peluru”, ia berkata bahwa kumpulan puisi itu berbicara tentang kerinduan. Kerinduan terhadap apapun, termasuk kerinduan kepada bapak, masa kecil, dan kerinduan terhadap kenangan itu sendiri. Di depan penonton, Putri membacakan puisi karya Wani yang berjudul “Nok”.

Setelah rangkaian pembacaan puisi selesai, acara berlanjut pada peluncuran video klip “Bunga dan Tembok” oleh Fajar Merah.

Lagu Bunga dan Tembok adalah lagu yang liriknya diadopsi dari puisi Wiji Thukul. Video Klip ini disutradari oleh Eden Junjung. Video klip yang dibuat dengan bentuk kolase ini terlihat sangat artistik. Fajar yang baru melihat hasil video klipnya saat acara peluncuran tersebut, berkata “video klipnya kelihatan anak muda sekali ya”. Bagaimana tidak, video klip bernuansa pop art ini membuat penonton khususnya anak muda dapat lebih mudah memahami kondisi politik yang terjadi di Indonesia pada masa orde baru.

Tinggalkan komentar