Kenyamanan ‘Semut’ dalam Kemapanan Oportunis

Tulisan ini pertama kali terbit di lpmpressisi.com

Sambutan dari Prof. M. Dwi Marianto (sekaligus sebagai penulis)

Satu rangkaian dalam tema pameran tunggal ini berawal dari gagasan Ada Gula Ada Semut. Namun mempertimbangkan gagasan tersebut yang dirasa masih ringan, ditambahkanlah kemudian Colossal Drama of The Opportunist sebagai satu rangkaiannya. “Ya itu satu rangkaian. Gagasan awalnya dari Ada Gula Ada Semut. Tapi kan sangat ringan dan belum masuk ke esensinya. Biasa kalau bikin karya memang ngambil (dari) keseharian yang di situ ada potensi untuk digali lebih dalam lagi. Kalau Ada Gula Ada Semut, aku cuma ngambil esensi di mana setiap orang mempunyai sisi mencari kesempatan, peluang, entah apapun. Kalau melihat fenomena sekarang kan lebih untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam artian keuntungan dan kepuasannya itu sudah enggak sekadar materi fisik,” tutur Iqro.

Sambutan dari Heri Dono (sekaligus membuka pameran)

Respons dan komentar dari sejumlah penikmat karya-karyanya dalam pameran tersebut pun beragam. Sebagian besar pengunjung merasa terkejut, mengingat ia telah vakum selama 5 tahun. “Dari mereka merasakan ada kejutan-kejutan baru lagi. Banyak orang syok, karena aku 5 tahun ini sudah vakum, enggak 100%, tapi intensitas berkaryaku banyak di luar negeri, karena kegiatan residensi dan sebagainya. Nah aku awal tahun (Februari 2018 –red) itu mulai ada plan dalam satu tahun itu pengin mempresentasikannya. Banyak yang sebenarnya menceritakan kisah perjalananku. Ketika ada kesempatan ke luar negeri, membawa pesan dan pengetahuan selama hidup di sini sebagai warga Indonesia,” lanjutnya.

Penyerahan tanda mata kepada Prof. M. Dwi Marianto

Oportunis sendiri memiliki definisi yakni orang yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu. Definisi tersebut pun senada dengan peribahasa (juga sebagai tema) Ada Gula Ada Semut, sebuah fenomena yang tidak asing dijumpai dalam berbagai ekosistem kehidupan, di mana setiap makhluk hidup (lebih-lebih manusia) akan selalu memanfaatkan setiap peluang untuk mencapai tujuan. Pameran seni rupa ini kemudian –dari sisi tertentu—dapat pula digunakan untuk membaca situasi dan kondisi di lingkungan sekitar (dalam skala kecil), Indonesia (dalam skala besar), serta seluruh dunia (dalam skala lebih besar) saat ini bahwa perilaku ‘Oportunis’ telah membudaya dan jamak dilakukan oleh siapa saja dalam situasi apa saja. Masifikasi ‘Oportunis’ lalu mengaburkan perbedaan antara praktik-praktik dalam batasan yang masih terbilang baik dengan yang telah mencapai keburukan sama sekali.

Relevan bila kemudian ‘Oportunis’ dikaitkan dengan kondisi sosio-kultural saat ini. Bahkan tidak hanya di Indonesia, ‘Oportunis’ telah jamak terjadi di sepenjuru dunia. Tidak hanya terbatas dilakukan oleh para pemilik wewenang-kuasa maupun aktor-aktor pelaku ekosistem-birokratisasi-prosedural, ‘Oportunis’ nyatanya telah menjangkiti sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehari-hari. Telah menjadi kebiasaan dan budaya baru yang lumrah. Kita sendiri barangkali tanpa sadar telah atau sedang mempraktikkannya.

Dirinya (Iqro Akhmad Ibrahim) pun mengamini ikhwal ‘Oportunis’ –atau secara ringkas, yakni menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan—manakala dikaitkan dengan konteks sosio-politik saat ini. “Apalagi konteks sekarang, sosio-politik. Tahun-tahun sekarang kan lagi politik. Dan di situ banyak celah. Maksudnya, entah sifatnya yang total politis, tentang partai, dan sebagainya, banyak peluang untuk arahnya ke situ.”

Bergitu masif dan luar biasa besarnya (Kolosal) praktik ‘Oportunis’, menjadi drama tersendiri di segala lini kehidupan. Tidak hanya antara manusia, namun dapat pula antar seluruh makhluk di Bumi. Bentuk-bentuk ‘Colossal Drama of The Opportunist’ ini juga semakin jelas terbaca tatkala berhasil tertuang menjadi karya-karya dalam pameran tunggal ini.

Penyerahan tanda mata kepada Heri Dono

Zona Nyaman dan Kemapanan

Apabila dilihat sekilas, setiap karya di pameran ini tidaklah mulus atau tampak halus. Hal tersebut dapat diinterpretasikan ke dalam beragam peristiwa dan alasan. Dari segi formalitas, itu dapat dipahami sebagai salah satu bentuk unsur-unsur lain untuk mendukung pesan yang lebih utama. Sayangnya, pendekatan ekspresivisme menolak keterbatasan tersebut. Faktor-faktor ekstraestetik tampak jelas lewat kacamata pendekatan ini. Faktor-faktor dari luar (lingkungan, budaya, pergaulan, perjalanan, dll) muncul sebagai bagian dari suatu karya. Mengenai ketidakmulusan karya-karya tersebut, bukan keliru bila kemudian sangat merepresentasikan diri pembuatnya sendiri dan lingkungannya. Selain itu, masih bisa dikaitkan dengan kemapanan para pelaku ‘Oportunis’ yang menimbulkan ketidakteraturan suatu tatanan.

“Geografis tempat tinggal itu sangat mempengaruhi pola pikir dan karakter sampai etos kerja. Penting melatih kepekaan untuk membaca-membaca situasi seperti itu. Jadi enggak sekadar informasi yang sifatnya teks, kayak berita atau apa, tapi bisa merasakan langsung, membaca dari gestur orang, dari obrolan, dari apapun. Terus, menjadi lebih open mind. Dalam artian, bisa menerima pemikiran lain. Jadi ketika sudah tahu dan mau mencoba memahami, akan ada kesadaran untuk memahami,” terang perupa yang telah lama menabrak koridor 2 dimensi seni lukisnya dengan membuat pula karya-karya 3 dimensi.

Salah satu karya yang memesona dan memukau dari pameran tunggalnya kali ini, adalah satu angle dengan beragam peristiwa, dari lukisan perahu kertas tenggelam bersama penumpangnya. Warna-warni peristiwa hadir dalam karya tersebut. Pengorbanan, kerelaan, kemenangan, penolakan, bahkan chaos, terlukis melalui tumpukan menggunung figur-figur bertubuh besar.

Karya-karya rupa ini membenturkan kenyamanan atas kemapanan di tengah ranah publik saat ini dari luar cakupan kesadaran para pelakunya. Dalam persoalan ruang, bentuk-bentuk penggambaran karakter menjadi sosok-sosok bertubuh besar mengusik keingintahuan terhadap sebab-musabab penggelembungan itu. “Makanya aku memunculkan banyak figur-figur raksasa di situ. Dan kalau tahun politik sekarang kan hampir sama. Penggulingan-penggulingan kekuasaan yang dilakukan berulangkali, dan itu cuma dilakukan oleh keturunan sendiri juga. Entah anak-anaknya. Dan sampai sekarang juga itu akhirnya cuma jadi perebutan kekuasaan yang mungkin sekarang kesannya menjatuhkan rezim, tapi setelah itu yang menjatuhkan akan menjadi rezim lagi (pengganti –red),” pungkasnya.

Bisa dikatakan kemudian, karakter-karakter bertubuh ekstrabesar ini cukup pantas menjadi representasi dari mayoritas pelaku kemapanan masa kini. Tanpa bermaksud mendiskreditkan sejumlah pelaku kemapanan yang masih patut diapresiasi bahkan menjadi figur contoh. Pelaku kemapanan dari kelompok mayor lantas diejawantahkan melalui setiap karya dalam pameran rupa ini.

Hasil-hasil dari bentuk-bentuk pengejawantahan tersebut kemudian dapat melahirkan spekulasi makna, tentang keberadaan beragam-macam ruang dengan fungsi dan tujuan yang kabur. Banyak di antaranya kosong, memperpanjang satu urusan, melemparkan tanggung jawab dan kepentingan, menyerap suplai kebutuhan hidup dari sesama, menjadi boneka yang haus akan pencapaian instan atas hidup, hingga identitas mereka masing-masing pun kabur –tanpa mereka sadari.

Tinggalkan komentar