Kembali Beradaptasi, Menarik, Tapi …

Tulisan ini pertama kali terbit di lpmpressisi.com

Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali mengadakan pemutaran film Tugas Akhir (TA) bertajuk Kembali Beradaptasi pada Senin, 30 Desember 2019. Berbeda dari screening TA 2019 lainnya yang biasa menempati ruang Audio Visual (di Dekanat FSMR) Kampus ISI, pemutaran kali ini bertempat di Cinepolis Lippo Plaza Yogyakarta. Kembali Beradaptasi menjadi kali kesekian screening yang menyewa satu ruang bioskop komersial untuk pemutaran film secara kolektif. Acara berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 20.30 WIB pada saat film terakhir selesai diputar, dengan total sepuluh film terbagi menjadi dua slot. Beberapa film dalam slot pertama yaitu Try Again (Ainul Fikri dan Umar Syarif), Dia di Antara yang Lain (Aditya Pamungkas), Human VS Elephant (Ahmad Fahmi Nur Khafifi), Niram (Yunalistya Sakanti Putri), dan Huma Amas (M. Al Fayed, Dipa Kurnia, Ghina Rahimah). Dengan selisih waktu satu jam, lima film menyusul ditayangkan dalam slot dua yakni Nasalis Larvatus (Pratiwi Desnindriani), Rahim Puan (M. Syahiddhan dan Bayu Setya), Masih Kecil (Faishal Amri dan Erwin Prasetya), Sultan Labok (Dicky Firjayanto), dan Booking Out (Fuad Hilmi Hirnanda).

Banyaknya film yang ditayangkan dan tidak mengomersialkan tiket masuk membuat pengunjung membludak hingga antrean mengular bahkan sebelum registrasi dibuka. Ditambah dengan pemeran dari tiap film yang terhitung profesional di bidangnya, serta pemilihan tempat penayangan yang sangat mendukung, membutuhkan tim dengan tingkat kapabilitas tinggi. Tak ayal bila pengunjung sangat antusias untuk menyaksikan seluruh film dari slot satu sehingga mereka rela mengantre panjang demi mendapatkan sebuah tiket. Sayangnya hal itu ternodai oleh beberapa panitia yang ditugaskan mengatur proses registrasi. Pengunjung yang ingin mengantre lebih dulu sengaja datang beberapa jam sebelum regitrasi dibuka dengan tujuan bisa mengikuti serangkaian film dari slot satu. Tapi apa daya, hanya setengah dari pengunjung yang memadati lantai tiga Cinepolis yang memperoleh tiket. Sisanya harus menunggu dengan harapan masih bisa masuk saat slot dua.

Beberapa jam sebelum regitrasi slot dua dibuka, pengunjung sudah membentuk antrean terlebih dahulu meski belum disuruh. Mereka adalah pengunjung yang tidak bisa masuk ke slot satu. Sebagian besar antrean dipenuhi pengunjung dengan pakaian setengah basah, karena telah menerobos hujan deras yang mengguyur Yogyakarta saat itu. Salah satu pekara paling disayangkan dari proses registrasi ini, kendati panitia pengurus tiket telah selalu stand by, tapi pemberitahuan mengenai antrean bisa dibagi dalam dua baris tidak ada. Setelah antrean ”tampak” cukup panjang, barulah perwakilan panitia membuka dua baris registrasi dan memotongnya dari tengah-tengah antrean. Sehingga pengunjung yang mengantre duluan dari slot pertama untuk menonton film di slot kedua ”lagi-lagi” kehabisan tiket. Hal ini membuat pengunjung yang bertahan sejak slot satu dan tak banyak berhasil masuk, mengungkapkan kekecewaannya melalui tim Pressisi yang juga hadir pada saat itu. Namun, mereka masih memiliki kesempatan masuk karena panitia membuat waiting list.

Lalu bagaimana dengan nasib Rizal, mahasiswa ISI Surakarta yang rela datang dari kota tempat kampusnya berada demi ikut memeriahkan acara tersebut? Motif Rizal melaju dari Surakarta murni untuk menonton pemutaran film TA Kembali Beradaptasi tanpa embel-embel memiliki teman di sana. Rizal mengaku telah mengantre satu jam sebelum dimulainya pemutaran film pada slot satu. Namun, ketika registrasi dibuka, dirinya kehabisan tiket. Rizal bersama temannya dari Universitas Amikom pada saat itu, memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut sembari menunggu dibukanya registrasi slot dua. Rizal kembali lagi untuk mendapatkan tiket slot dua satu jam sebelum registrasi dibuka. Namun, antrean memanjang sampai dirinya tidak mendapatkan tiket untuk kedua kalinya. Rizal masih menunggu, karena namanya tercantum dalam waiting list meski temannya meninggalkan dirinya dan memilih untuk pulang. Meski begitu, Rizal sempat menikmati tiga film terakhir yang diputar sebelum acara selesai. Ke depannya semoga panitia ataupun tim yang bertugas membantu keberlangsungan acara apapun bisa mengutamakan antusiasme pengunjung yang telah menghabiskan waktunya lebih dulu. Tanpa mereka, suatu acara tidak akan terasa energinya.

 

 

Teks: Karina Devi Saraswati

Tinggalkan komentar