“Bara Lapar Jadikan Palu” : Genap Berusia 20 Tahun, Taring Padi Kembali ke Kampus

Tulisan ini pertama kali terbit di lpmpressisi.com

Dalam sejarah suatu komunitas yang terbentuk secara komunal, sebuah embrio tumbuh karena kondisi sosial yang semakin memburuk akibat dari akumulasi kekecewaan dan perlawanan terhadap rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia yang kedua, yaitu Soeharto. Kala itu permulaan Orde Baru meletuskan angka-angka pertumbuhan makroekonomi yang sangat mengesankan. Namun, kebijakan-kebijakan tersebut menyebabkan ketidakpuasan pada masyarakat Indonesia terhadap praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang berputar dalam mekanisme pemerintahan.

Dengan latar belakang kejadian tersebut, banyak lapisan masyarakat tergerak untuk bersuara. Begitu pun yang dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa seni dengan membentuk satu naungan bernama Taring Padi untuk berdialog dan bersuara bersama. Keluarga Taring Padi ini tersusun atas dominasi mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Mereka selalu menggunakan dan menyertakan unsur visual pada hampir semua kegiatannya. Menyuarakan protes melalui media seni secara visual dengan simbol figur penguasa yang digambarkan sebagai seekor binatang yang bersifat negatif atau menjijikkan dalam pikiran masyarakat.

Logo komunitas Taring Padi. Foto: www.taringpadi.com

Taring padi merupakan komunitas seni dan budaya asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terbentuk pada tanggal 21 Desember 1998 silam. Sebagai organisasi progresif, Taring Padi menetapkan bahwa tugas mereka adalah membangun kembali “Budaya Kerakyatan” dan mengadvokasi siasat front bersatu dalam rangka mendorong perubahan demokratis yang berwatak popular Indonesia.

Hari Senin, 19 November 2018 Taring Padi dan ISI Yogyakarta mengumumkan kepada publik bahwa untuk memperingati 20 tahun Taring Padi bergerak dan menyuarakan pandangannya, mereka siap menggelar pameran seni rupa yang betemakan “Bara Lapar Jadikan Palu”. Dalam perjumpaan di hadapan publik Senin lalu, Muhamad Yusuf alias Ucup selaku salah satu kurator pameran menjelaskan bahwa tema “Bara Lapar Jadikan Palu” merupakan penggalan lirik sebuah lagu yang berjudul “Rakyat Bersatu” ciptaan Yayak Kencrit atau Yayak Iskara Ismaya.

Poster acara “Bara Lapar Jadikan Palu” yang diselenggarakan di Galeri R.J Katamsi, Institut Seni Yogyakarta.

Ucup juga menjelaskan bahwa pameran yang bertempat di Galeri R.J Katamsi, ISI Yogyakarta ini akan dibuka pada tanggal 21 November 2018 dan ditutup pada tanggal 9 Desember 2018 mendatang. Selama digelarnya acara tersebut akan diselenggarakan pula beberapa kegiatan kesenian yang interaktif lainnya.

Interior ruang pameran “Bara Lapar Jadikan Palu” di Galeri RJ. Katamsi, ISI Yogyakarta.

“Melalui pameran ini para pengunjung akan diajak untuk membaca kembali Taring Padi. Tentang sejarah, bagaimana selama ini jaringan yang sudah dikembangkan, kiprah dalam masyarakat, serta bagaimana masa depan dari organisasi ini,” ujar Supriyanto salah satu penata bagian karya.

I Gede Arya Sucitra selaku perwakilan dari pihak Galeri R.J Katamsi, ISI Yogyakarta menjelaskan bahwa terdapat ideologi yang di bangun oleh Taring Padi. Dan sekiranya dapat diambil bagian-bagian pentingnya seperti, seni tidak harus dengan hal yang indah-indah. Tetapi ada tujuan yang diketahui, salah satunya ialah memberikan manfaat, inspirasi, dan membuka pemikiran rakyat lapisan bawah bahwa dengan seni, para seniman bisa membuka pikiran para penguasa.

I Gede Arya Sucitra sedang diwawancarai oleh sejumlah wartawan dalam acara press release pameran pada Rabu, 21 November 2018.

“Memberikan semacam karakter berkesenian kepada mahasiswa dan masyarakat bahwa seni tidak melulu indah tetapi lebih kepada membuka pikiran terhadap pemaknaan hidup.” Tutur Arya ketika ditanya mengenai alasan mengadakan kolaborasi bersama dengan Taring Padi.

Pemeran yang menampilkan karya-karya arsip seni kontemporer dari Taring Padi ini merupakan wahana eksistensi dan perkembangan komunitas yang bernafaskan kerakyatan tersebut selama 20 tahun berkarya. Selain itu momentum ini pun dijadikan sebagai ajang untuk ‘kembali ke kampus’. Hal ini dikarenakan sebagian besar anggota dan simpatisan Taring Padi berasal dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, serta mempunyai riwayat intim dengan kampus lama yaitu Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

Salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran “Bara Lapar Jadikan Palu” sebagai ajang memperigati hari jadi Taring Padi ke-20.

Pameran ini pun dijadikan ajang untuk merekam jejak perjalanan Taring Padi selama 20 tahun membela dan memperjuangkan budaya kerakyatan. Sehingga jenis karya yang dipamerkan berupa banner, poster, foto, video, zine, serta surat-surat dan segala hal lain yang berkaitan dengan Taring Padi.

Mari ikut merasakan suasana perjuangan dan mendengarkan dialog-dialog keresahan tentang rakyat bersama dengan Taring Padi!

Panjang umur kemanusiaan!

Panjang umur kerakyatan!

Panjang umur Taring Padi!

Tinggalkan komentar